Konsonant
Analisis sementara menunjukkan bahwa bahasa Rongga mempunyai sistem konsonan seperti yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini:
Bahasa Rongga mempunyai sistem vokal yang sangat simetris. Terdapat ada enam vokal, dengan posisi seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini. Arahkan dan/klik "mouse" anda di atas contoh kata untuk mendengarkan bunyi vokalnya.
Analisis sementara menunjukkan bahwa bahasa Rongga mempunyai sistem konsonan seperti yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini:
| Opposisi konsonan stop dalam b Rongga Rongga membedakan empat oposisi bunyi stop: i) bersuara, ii) takbersuara, iii) preglotal, and iv) prenasal. Contoh pasangan minimal yang munjukkan hal ini adalah bha [?ba] ‘piring' vs ba [ba] ‘bak', bhowa [?bowa] ‘buka' vs mbowa [mbowa] ‘sejenis batu di laut' vs powa [powa] ‘sejenis ikan laut', dan rebha [re?ba] ‘baik' vs repa [repa] ‘bunyi'. Konsonan stop yang ada preglotalnya dalam posisi tengah kata menyebabkan melemahnya konsonan tesebut. Tampaknya frikatif velar yang secara tradisional ditulis oleh penutur Rongga dengan gh merupakan konsekuensi dari proses pelemahan (lenition) ini. Yakni, usaha untuk mengucapkan dengan cepat dua urutan stop yang berartikulasi berdekatan (glotal and velar) tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Akibatnya aliran udara yang terhalang secara tidak sempurna tesebut menimbulkan bunyi frikatif. . |
Fonotaktik Bahasa Rongga umumnya mempunyai struktur sukukata terbuka (V or CV). Konsonan yang dipreglotalkan atau diprenasalkan yang berada ditengah kata biasanya mengalami re-aliansi struktur suku kata: prenasal/preglotal ditarik menjadi koda dari struktur suku kata sebelumnya, menyebabkan munculnya suku kata tertutup. Misalnya, penda ‘nenas' diucapkan sebagai [pen.da], bukan *[pe.nda]. Walapun bahasa Rongga mengijinkan konsonan muncul di akhir sukukata seperti tadi, konsonan di akhir kata tidak diijinkan dalam kata-kata asli Rongga. Jadi, apabila ada kata dengan sukukata akhir tertutup (C)VC, sudah hampir pasti itu adalah kata serapan dari bahasa lain. |