Bahasa ritual di Rongga dan juga di bahasa-bahasa lainnya di Flores dianggap sebagai ragam yang 'tinggi' dan susah. Dalam bahasa Rongga, ragam ritual ini dikenal dengan Vera. Vera sesungguhnya adalah bahasa ritual yang dinyanyikan dan dibarengi dengan tarian. Tarian ritual ini seperti tampak pada gambar di sebelah kiri umumnya dipentaskan oleh orang-orang yang sudah dewasa. Walaupun tidak punah betul, ada jenis Vera yang terancam punah, karena tidak banyak anak muda Rongga yang mampu melakukannya.
Struktur bahasa ritual
Bentuk bahasa ritual di Indonesia Timur umumnya sangat rumit dan strukturnya berupa frasa-frasa baku tertentu dan berbentuk bait-bait yang paralel. Bentuk bahasa ritual Vera dalam bahasa Rongga juga mempunya ciri-ciri yang demikian. Berkut ini adalah contoh bait-bait Vera yang menceritakan tentang sejarah suku Motu.
Motu
Meka
ndili
mai,
Weka
ndili
mai
Jawa
nama
nama
sana
datang
nama
sana
datang
Jawa
' Motu Weka yang datang kesini adalah Motu Weka dari Jawa'
Rajo
ngazha
Milo
Motu,
tu
ndele
Sarikondo
perahu
panggil
nama
nama
darat
utara
nama
'Perahu mereka yg bernama Milo Motu mendarat di Sarikondo'
Sarikondo
mosa
me'a,
tei
Motu
stana
mezhe
nama
laki
sendiri
lihat
nama
sebesar
besar
'Sarikondo sendiri dikenal luas, dan Motu tumbuh besar'
Motu
Woe
limazhua,
embu
me'a
Sunggisina
nama
teman
tujuh
kakek.moyang
sendiri
nama
'Motu itu bersaudara tujuh, keturunan dari Sunggisina'
Motu
Woe
limazhua,
beka
sogho
wae
kodhe
nama
teman
tujuh
pecah
karena
air
monyet
'Keluarga Motu ada bersaudara tujuh orang, tetapi meraka pecah karena bertengkar gara-gara sup daging monyet'
Yang berikut ini Vera jenis lain, yang berisi petuah nenek moyang:
Lo
resi
mbojo,
mudha
ngata
lima
lua
badan
hujan.rintik
payah
mujur
orang
tangan
rambut
Weki
resi
semi,
mudha
ngata
lima
lua
bodan
hujan.rintik
payah
mujur
orang
tangan
rambut
'Sesuatu mesti dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanpa memikirkan untungnya untuk diri sendiri.'
Hal-hal berikut ini dapat dicatat dari struktur Veras yang diperlihatkan di atas. Pertama, setiap baris berisi dua bagian, yang dipisahkan oleh koma dalam bentuk tulisan di atas, dan setiap bagian umumnya terdiri dari empat (atau tiga) kata bersuku kata dua. Kedua, yang menjadi ciri khusus adalah adanya ungkapan paralel yang mengulang kata-kata yang mempunyai bentuk yang sama, misalnya Motu Woe limazhua di Vera yang pertama, dan muda ngata lima lua di Vera yang kedua. Atau, garis paralel bisa jadi terdiri dari kata-kata yang bersinonim, misalnya ungkapan Lo resi mbojo dan Weki resi semi dalam Vera yang kedua bermakna sama/mirip.
LAGU RONGGA
Ana Kolo "Anak Tekukur"
Klik dan/atau lintaskan "mouse" anda di atas baris lagu, dan saat baris itu berubah merah maka anda akan mendengar suara lagunya!
(Lakukan satu baris satu baris sebelum melanjutkan ke baris berikutnya)
"anak tekukur, anak tekukur, anak tekukur yang kecil""
"di laut, di laut, bukan di laut"
"ambil air, ambil air, ambil air di Nangarawa"
"(dalam) bakul besar, bakul besar, taruh kerang putih itu"