Tatabahasa Rongga: selayang pandang
Bahasa Rongga adalah bahasa isolasi. Tidak ada pemarkah morfologis yang dipakai untuk menunjukkan operasi peningkatan dan pengurangan valensi. Sebagai gantinya, bahasa Rongga menggunakan strategi alternatif berupa variasi konstruksi yang memungkinkan argumen ditambah atau dikurangi pada bingkai posisi inti. Konstruksi alternatif ini setidak-tidaknya ada dua jenis: i) tanpa serialisi verba, dan ii) dengan serialisi verba. Pada jenis yang pertama, verba dengan bentuk yang sama dipergunakan pada struktur yang terkait dengan valensi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Jadi, seperti alternasi datif (dative shift) dalam bahasa Inggris give . Misalnya, verbs weli 'beli' dalam bahasa Rongga bisa muncul setidak-tidaknya dalam tiga konstruksi: i) transitif (FN(agen)- weli -FN(pasien)), ii) ditransitif (FN (agen)- weli -FN(penerima)-FN(tema)), and iii) pasif intransitif (FN(pasien)- weli -(FP(agen))). Dalam jenis yang kedua, peningkatan valensi bisa terjadi karena serialisasi. Misalnya, verbs weli dijadikan konstruksi serialisasi verba dengan menempatkan verba lain ti'i ‘give' sesudahnya, menjadi weli ti'i . Dalam konstruksi yang demikian, rangkaian verbanya haruslah diucapkan dengan kontur intonasi yang satu dan tidak boleh diberi disela oleh unit lain.
Makalah tentang relasi gramatikal bahasa Rongga bisa dibaca disini (dalam format .pdf).
Buku tentang tatabahasa Rongga versi bahasa Indonesia bisa didapatkan di sini; versi bahasa Inggrisnya segera menyusul
Cek di sini untuk makalah lain terkait dengan bahasa Rongga.