DOKUMENTASI BAHASA RONGGA

subglobal2 link | subglobal2 link | subglobal2 link | subglobal2 link | subglobal2 link | subglobal2 link | subglobal2 link
subglobal3 link | subglobal3 link | subglobal3 link | subglobal3 link | subglobal3 link | subglobal3 link | subglobal3 link
subglobal4 link | subglobal4 link | subglobal4 link | subglobal4 link | subglobal4 link | subglobal4 link | subglobal4 link
subglobal5 link | subglobal5 link | subglobal5 link | subglobal5 link | subglobal5 link | subglobal5 link | subglobal5 link
subglobal6 link | subglobal6 link | subglobal6 link | subglobal6 link | subglobal6 link | subglobal6 link | subglobal6 link
subglobal7 link | subglobal7 link | subglobal7 link | subglobal7 link | subglobal7 link | subglobal7 link | subglobal7 link
subglobal8 link | subglobal8 link | subglobal8 link | subglobal8 link | subglobal8 link | subglobal8 link | subglobal8 link

Budaya Rongga

Gambar di sebelah kiri menunjukkan seorang penutur Rongga dengan anaknya, sementara gambar disebelah kanan memperlihatkan rumah adat. Seorang tua dan cucunya dengan senang hati berpose untuk difoto di depan rumah adatnya.

Budaya Rongga selayang pandang

Komunitas penutur etnik Rongga setidak-tidaknya terdiri dari 20 sub-etnik (klan, atau suku, dengan suku Motu , Lowa dan Nggeli merupakan tiga suku yang dominan. Setiap suku mempunyai peran adatnya tersendiri, misalnya peran pemimpin secara tradisional dipegang oleh kelompok suku Motu dan Lowa. Setiap suku mempunyai rumat adatnya masing-masing, tempat barang-barang pustaka disimpan, diupacarai, dan juga tempat berbagai acara ritual lain diadakan.

Kegiatan keseharian dan tradisional orang Rongga berkisar sekitar sa'o ‘rumah', nua ‘kampung' dan uma ‘kebun'.

Etnik Rongga menganut sistem kekerabatan patrilineal. Warisan jatuh menurut garis laki-laki, dilakukan oleh sang ayah (kalau masih hidup), atau oleh anak tertua (jika ayah sudah meninggal). Poligami secara tradisional ada dan boleh, tetapi belakangan (semenjak datangnya agama Katolik) hal ini semakin jarang dan tidak dianggap baik oleh masyarakat. Dalam sistem partilineal, sang istri pergi dan tinggal bersama suaminya di rumah sang suami. Si istri kehilangan hak-haknya terkait dengan keluarga asalnya. Proses perkawinan dalam adat Rongga bisa merupakan proses yang panjang, dimulai dengan pinangan dari pihak laki ke pihak perempuan, yang bisa berjalan alot karena terjadi proses perundingan untuk mendapatkan kesepakatan atas besarnya belis (emas kawin) yang mesti deiserahkan oleh keluarga si laki.

Harapan hidup orang Rongga biasanya sekitas 60 tahunan. Tetapi terkadang ada orang Rongga yang bisa hidup sampai lebih dari 90 tahun. Bila seseorang yang berumur panjang meninggal, maka pada saat dia meninggal dibuatkan upacara khusus disebut sedhu mbizha ndoa ngembo. Upacara ini berupa upacara pukul gendang ( nggore nggote ), membunyikan meriam bambu, potong hewan untuk penggalian kubur ( teka tana ), pertunjukan Mbata and Vera (nyanyian dan tarian tradisional), acara empat malam berturut-turut ( paka zhi'a ), dan setelah setahun, diadakan upacara toko lulu huki. Tempat makam orang biasanya terletak pada pojok halaman depan rumah, sebelah kanan.

 

 

| | Hubungi: Wayan.Arka@anu.edu.au | ©2004 I Wayan Arka